Senin, 28 April 2014



CARA MENGHINDARI PLAGIAT
Berita plagiat yang terbaru, melibatkan mahasiswa S3 yang waktu itu sedang berusaha menyelesaikan thesisnya.  Bagi seorang kandidat doktor, memang ‘diwajibkan’ memberikan kontribusi ilmiah yang baru dalam bidangnya. Kontribusi ini biasanya dituangkan dalam bentuk penulisan makalah yang di publikasikan di media nasional ataupun internasional.
Mahasiswa ini mempublikasikan tulisannya di badan internasioal  IEEE (Institute of Electrical and Electronic Engineers). IEEE adalah  asosiasi profesional internasional yang bergerak di bidang Rekayasa Elektronika dan IT.
IEEE membedakan plagiat menjadi beberapa level. Berikut level-levelnya di mulai dari yang kasus yang terberat:
  1. Penyalinan mentah-mentah dari suatu paper tanpa menyebut sumbernya. Termasuk di kategori satu ini bila plagiat dilakukan lebih dari 50% dari teks aslinya. Pada kategori ini banyak bagian dari paper asli di salin tanpa tanpa referensi sama sekali.
  2. Penyalinan mentah-mentah dalam porsi yang masih besar (20-50%) tanpa menyebut sumbernya.
  3. Penyalinan beberapa elemen tulisan seperti paragraf, kalimat, gambar atau tabel tanpa menyebutkan sumbernya.
  4. Penulisan kembali suatu halaman atau paragraf tanpa menyebut acuan yang asli. Beberapa kata atau kalimat bisa dirubah urutannya, tapi tanpa penyebutan sumber aslinya tetap di sebut plagiat.
  5. Jika teks yang disalin sudah menyebutkan sumbernya, tetapi cara pengungkapannya kurang benar. Misalnya tidak meletakkan tanda kutip di kalimat yang teks aslinya tidak diubah, atau penyalinan kalimat yang dengan hanya mengubah urutan atau hanya mengganti sejumlah kata saja.
Pengalaman penulis, untuk nomor 1-4 relatif mudah dihindari, karena cukup dengan menyebut sumber-sumbernya secara jelas, maka  syarat itu sudah terpenuhi. Justru yang sulit adalah menghindari plagiat di level 5, karena untuk mengungkapkan kembali suatu pernyataan ilmiah dari suatu sumber, kita perlu mengerti benar konteks permasalahannya.
Dan masalah lain buat penulis adalah bahasa Inggris yang bukan bahasa ibu, jadi memang perlu ekstra hati-hati dalam pengungkapannya.
Jika melihat kembali kasus plagiat yang dilakukan mahasiswa S3 tersebut, maka sudah jelas tulisannya masuk di kategori yang pertama. Kategori yang paling fatal, karena selain judul, nama penulis dan bibliografi, semua isinya sama.  Sebagai tambahan, kasus professor yang melakukan plagiat dari bandung, nampaknya termasuk di kategori ke empat.
Jadi bagaimana menghindari plagiat?
Seperti tertulis di atas, caranya mudah-mudah gampang. Tapi kira-kira secara umum caranya adalah sebagai berikut:
  1. Menyebut sumber dengan jelas
  2. Jika mengutip kalimat persisnya jangan lupa di berikan tanda kutip
  3. Bagian yang dikutip bisa di tulis ulang lagi dengan cara pengungkapan yang berbeda tetapi tetap menjaga makna yang sama.  Hal ini bukan berarti kita hanya  membalik-balik susunan kata atau hanya mengganti dengan kata yang lain yang artinya sama.
Nomor satu dengan mudah kita lakukan, juga nomor dua. Untuk nomor dua, pengutipan persis seperti aslinya biasanya membuat tulisan kita kadang terasa tidak terhubung antara kalimat sebelumnya dan sesudahnya (tidak nyambung).  Nomor tiga biasanya digunakan supaya tulisan kita bisa dibaca dengan enak. Tapi cara ketiga ini yang tidak mudah.