CARA MENGHINDARI
PLAGIAT
Berita plagiat yang
terbaru, melibatkan mahasiswa S3 yang waktu itu sedang berusaha menyelesaikan
thesisnya. Bagi seorang kandidat doktor, memang ‘diwajibkan’ memberikan
kontribusi ilmiah yang baru dalam bidangnya. Kontribusi ini biasanya dituangkan
dalam bentuk penulisan makalah yang di publikasikan di media nasional ataupun
internasional.
Mahasiswa ini
mempublikasikan tulisannya di badan internasioal IEEE (Institute of
Electrical and Electronic Engineers). IEEE adalah asosiasi profesional
internasional yang bergerak di bidang Rekayasa Elektronika dan IT.
IEEE membedakan plagiat
menjadi beberapa level. Berikut level-levelnya di mulai dari yang kasus yang
terberat:
- Penyalinan mentah-mentah dari suatu paper tanpa menyebut sumbernya. Termasuk di kategori satu ini bila plagiat dilakukan lebih dari 50% dari teks aslinya. Pada kategori ini banyak bagian dari paper asli di salin tanpa tanpa referensi sama sekali.
- Penyalinan mentah-mentah dalam porsi yang masih besar (20-50%) tanpa menyebut sumbernya.
- Penyalinan beberapa elemen tulisan seperti paragraf, kalimat, gambar atau tabel tanpa menyebutkan sumbernya.
- Penulisan kembali suatu halaman atau paragraf tanpa menyebut acuan yang asli. Beberapa kata atau kalimat bisa dirubah urutannya, tapi tanpa penyebutan sumber aslinya tetap di sebut plagiat.
- Jika teks yang disalin sudah menyebutkan sumbernya, tetapi cara pengungkapannya kurang benar. Misalnya tidak meletakkan tanda kutip di kalimat yang teks aslinya tidak diubah, atau penyalinan kalimat yang dengan hanya mengubah urutan atau hanya mengganti sejumlah kata saja.
Pengalaman penulis,
untuk nomor 1-4 relatif mudah dihindari, karena cukup dengan menyebut
sumber-sumbernya secara jelas, maka syarat itu sudah
terpenuhi. Justru yang sulit adalah menghindari plagiat di level 5, karena
untuk mengungkapkan kembali suatu pernyataan ilmiah dari suatu sumber, kita
perlu mengerti benar konteks permasalahannya.
Dan masalah lain buat
penulis adalah bahasa Inggris yang bukan bahasa ibu, jadi memang perlu ekstra
hati-hati dalam pengungkapannya.
Jika melihat kembali
kasus plagiat yang dilakukan mahasiswa S3 tersebut, maka sudah jelas tulisannya
masuk di kategori yang pertama. Kategori yang paling fatal, karena selain
judul, nama penulis dan bibliografi, semua isinya sama. Sebagai tambahan,
kasus professor yang melakukan plagiat dari bandung, nampaknya termasuk di
kategori ke empat.
Jadi bagaimana
menghindari plagiat?
Seperti tertulis di
atas, caranya mudah-mudah gampang. Tapi kira-kira secara umum caranya adalah
sebagai berikut:
- Menyebut sumber dengan jelas
- Jika mengutip kalimat persisnya jangan lupa di berikan tanda kutip
- Bagian yang dikutip bisa di tulis ulang lagi dengan cara pengungkapan yang berbeda tetapi tetap menjaga makna yang sama. Hal ini bukan berarti kita hanya membalik-balik susunan kata atau hanya mengganti dengan kata yang lain yang artinya sama.
Nomor satu dengan mudah
kita lakukan, juga nomor dua. Untuk nomor dua, pengutipan persis seperti
aslinya biasanya membuat tulisan kita kadang terasa tidak terhubung antara
kalimat sebelumnya dan sesudahnya (tidak nyambung). Nomor tiga biasanya digunakan supaya
tulisan kita bisa dibaca dengan enak. Tapi cara ketiga ini yang tidak mudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar